Cara Bluebird Bangkit dari “Kematian”: Strategi yang Tak Bisa Ditiru Startup

Jauhari

Ilustrasi seorang profesional bisnis Indonesia yang sedang menganalisis data pertumbuhan perusahaan, merepresentasikan strategi bangkit dari kebangkrutan tanpa ikut perang harga.

Bluebird adalah anomali. Di atas kertas, perusahaan taksi yang sudah berumur setengah abad ini seharusnya sudah bangkrut bertahun-tahun yang lalu.

Bayangkan, mereka dihantam oleh dua gelombang badai yang sangat mematikan. Pertama, disrupsi ride-hailing (taksi dan ojek online) dari perusahaan rintisan (startup) raksasa. Kedua, pandemi COVID-19 yang mengunci pergerakan seluruh masyarakat.

Perusahaan taksi konvensional di seluruh dunia, termasuk armada Yellow Cab yang ikonik di Amerika Serikat, banyak yang tumbang dan gulung tikar akibat dua hantaman ini. Pada tahun 2020, Bluebird bahkan mencatatkan kerugian hampir Rp200 miliar karena anjloknya pendapatan dari Rp4 triliun menjadi hanya Rp2 triliun.

Namun, sesuatu yang gila terjadi di laporan keuangan mereka baru-baru ini. Bukannya mati, mereka malah mencetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang masa, yaitu Rp5,7 triliun dengan profit bersih mencapai Rp600-an miliar!

Bagaimana mungkin perusahaan “kolot” ini bisa keluar dari jurang kebangkrutan dan mempermalukan para startup raksasa? Baru-baru ini saya menyimak bedah strategi bisnis yang sangat tajam dari Raymond Chin, dan berikut adalah rahasia kebangkitan Bluebird yang wajib kita pelajari.

1. Menolak Masuk Jebakan “Perang Harga”

Ketika startup transportasi masuk ke Indonesia dengan kucuran dana segar dari investor (strategi growth at all cost), mereka membakar uang dengan gila-gilaan untuk mensubsidi tarif. Tujuannya adalah membunuh kompetitor (Taktik Kuda Troya). Mereka memaksa semua perusahaan taksi konvensional untuk ikut menurunkan harga jika tidak ingin ditinggal penumpang.

Namun, Bluebird mengambil keputusan yang sangat berani: mereka menolak ikut perang harga.

Mereka tetap konsisten dengan tarif mereka yang saat itu 20-30% lebih mahal dari taksi online. Mengapa? Karena mereka sadar, bertarung dalam perang harga melawan perusahaan yang disokong pendanaan asing tanpa batas adalah tindakan bunuh diri. Jika mereka memaksakan diri, mereka tidak akan sanggup melakukan perawatan armada, dan akhirnya mati karena kehabisan napas (cashflow).

Mereka memilih untuk berkolaborasi (membuka akses pemesanan taksi mereka di aplikasi kompetitor) sambil membangun aplikasi mereka sendiri (My Bluebird). Bluebird bersabar menunggu hingga Tech Winter tiba—masa di mana investor mulai pelit memberi dana bakar uang kepada startup. Saat taksi online mulai mahal dan kualitas pelayanannya menurun karena mitra pengemudi yang kurang terurus, Bluebird kembali bersinar dengan standar kebersihan dan pelayanannya yang konsisten.

2. Bluebird Bukan Lagi (Sekadar) Perusahaan Taksi

Inilah plot twist terbesarnya. Lonjakan profit hingga Rp600 miliar tersebut ternyata tidak semata-mata dihasilkan dari taksi reguler (mobil biru) yang berputar-putar mencari penumpang di jalanan.

Jika Anda diserang oleh raksasa di satu medan perang, carilah medan perang baru yang tidak bisa disentuh oleh raksasa tersebut. Itulah yang Bluebird lakukan. Mereka berekspansi ke layanan Mobility as a Service (MaaS) untuk segmen B2B (Business to Business).

Mereka mengembangkan Golden Bird (sewa mobil mewah eksklusif harian/bulanan dengan sopir), Big Bird (sewa bus komersial), hingga layanan logistik korporat. Bisnis B2B ini menyumbang hampir 30% dari total pendapatan mereka (sekitar Rp2 triliun).

Mengapa B2B lebih menguntungkan?

  1. Pendapatan yang Bisa Diprediksi (Predictable Revenue): Mereka melayani kontrak korporat dan kedutaan besar. Mobil tidak perlu keliling jalanan membakar bensin mencari penumpang; mereka baru keluar garasi jika ada panggilan kerja yang pasti.
  2. Loyalitas Kontrak: Perusahaan besar lebih mengutamakan keamanan, rekam jejak, dan kepercayaan (trust) daripada sekadar harga murah. Raksasa startup yang sering mengubah regulasi sulit menembus kepercayaan level korporat ini.

Bahkan, mobil-mobil taksi mereka yang sudah berumur 5 tahun tidak dibuang. Karena perawatan SOP mesinnya sangat ketat, mobil-mobil eks-taksi ini sangat laku dijual di pasar mobil bekas (lewat platform Bird Mobil).

Pelajaran Bisnis untuk Kita

Dari kisah kebangkitan “Si Burung Biru” ini, ada beberapa prinsip bisnis yang bisa kita petik, terutama bagi Anda yang sedang merintis UMKM:

  1. Jangan Jadikan Harga Murah Sebagai Senjata Utama: Bersaing di ranah “siapa yang paling murah” adalah perlombaan menuju kehancuran (race to the bottom). UMKM tidak memiliki napas keuangan sepanjang konglomerat. Fokuslah pada kualitas pelayanan dan nilai tambah.
  2. Profit > Pendapatan (Omzet): Jangan mudah silau dengan metrik jumlah pengguna yang besar jika secara unit ekonomi Anda terus rugi. Bisnis Anda akan mati tanpa cashflow yang positif. Lebih baik melayani 10 pelanggan tapi menghasilkan profit Rp10 juta, daripada melayani 100 pelanggan tapi profit hanya Rp1 juta dengan biaya operasional yang membuat stres.
  3. Diversifikasi Sumber Pemasukan: Jangan bergantung hanya pada satu jenis produk yang sedang viral atau satu segmen pasar (B2C/Retail). Bangunlah fondasi pendapatan lain (seperti B2B) agar bisnis Anda tetap kokoh saat badai krisis atau pandemi datang menyerang.

Bluebird membuktikan bahwa kedisiplinan pada standar operasional (SOP) dan pengelolaan keuangan yang sehat akan selalu menang melawan strategi “bakar uang” jangka pendek.


(Catatan: Rangkuman strategi bisnis ini diadaptasi dari pemaparan mendalam Raymond Chin. Jika Anda ingin menyimak analisis laporan keuangan dan tantangan Bluebird melawan mobil listrik asal Vietnam ke depannya, silakan tonton video aslinya di sini: Cara Bluebird Keluar Dari KEBANGKRUTAN).

Leave a Comment

Hot Nows ionicons-v5-c