Mengapa Suksesi Ketua Umum Muhammadiyah Selalu Adem? Ini 5 Rahasianya

Jauhari

Suasana musyawarah di lingkungan Muhammadiyah

Muhammadiyah ini unik. Usianya sudah lebih dari satu abad, tepatnya 113 tahun.

Kalau diibaratkan manusia, umur segitu biasanya sudah dipanggil “Eyang”; jalannya pelan, agak bungkuk, dan kalau bicara sering mengulang cerita lama. Tapi Muhammadiyah? Masih lincah, masih produktif, dan bertenaga.

Organisasi ini masih sibuk mendirikan universitas, rumah sakit, sekolah, hingga pondok pesantren. Di panggung wacana nasional, “Buya-Buya” mereka juga aktif melontarkan pemikiran yang sering bikin netizen mengecek ulang iman dan akal sehatnya.

Lebih ajaib lagi, Muhammadiyah termasuk salah satu organisasi masyarakat terkaya di Indonesia. Asetnya ratusan triliun. Kalau dicairkan jadi es teh, mungkin cukup buat mendinginkan suhu politik seluruh negeri.

Di tempat lain, aset sebesar itu biasanya cukup membuat kursi rapat melayang seperti frisbee karena rebutan kekuasaan. Tapi di sini? Adem. Damai. Tenang. Nyaris seperti rapat RT yang sedang membahas perbaikan selokan.

Tradisi Unik: Saling Lempar Jabatan

Setiap muktamar, suasananya jauh dari kata “Perang Bintang” atau adu slogan. Yang terjadi justru fenomena yang agak susah dijelaskan ke orang luar: tradisi saling menolak jabatan.

Ini bukan basa-basi. Mereka saling dorong dan melempar tanggung jawab. Mirip kejadian rebutan jadi imam shalat kalau tidak ada jadwal tetap:

“Monggo, njenengan.” “Ndak usah, jenengan mawon.” “Wis, sampeyan wae.” “Aduh, jangan saya, tolong yang lain!”

Dialog seperti ini sering tak selesai-selesai. Kalau perlu, panitia harus “memaksa halus” agar pemilihan tuntas.

Salah satu kisah paling fenomenal terjadi di Muktamar ke-32 di Purwokerto. Setelah sembilan formatur terpilih, semuanya… menolak jadi ketua umum. Semuanya! Bahkan mungkin malaikat pencatat amal ikut geleng-geleng.

Akhirnya formatur bermusyawarah dan muncul ide kreatif: naturalisasi ketua. Mereka berangkat ke Minangkabau, meminang RA Sutan untuk bersedia menjadi Ketua Umum sekaligus hijrah ke Yogyakarta.

Coba bayangkan, dalam organisasi lain, “dipinang jadi ketua” adalah momen pencapaian puncak. Di Muhammadiyah? Itu rasanya seperti dipanggil guru BP: “Nak, kamu kami pilih jadi ketua. Ini bukan hadiah, ini PR.”

5 Alasan Mengapa Suksesi Muhammadiyah Anti-Drama

Lalu kenapa bisa begitu? Kok adem banget? Kok nggak ada drama rebutan kursi?

Apa karena warga Muhammadiyah sudah khatam dzikir tenang? Bukan juga. Rahasianya ada di kultur yang sudah tertanam ratusan tahun. Berikut analisisnya:

1. Jabatan adalah Amanah, Bukan Privilege

Muhammadiyah didirikan sebagai gerakan dakwah, bukan gerakan rebutan jabatan. Dari kecil, kader-kadernya sudah ditanamkan satu prinsip: jabatan itu amanah, bukan privilege.

Jadi ketika seseorang dipilih, yang ia rasakan bukan “Wah, saya naik level” tapi lebih ke “Wah, saya habis ini ndak bisa tidur nyenyak.”

2. Sistem Pemilihan Formatur

Sistem pemilihan Muhammadiyah itu damai banget karena menggunakan sistem formatur. Artinya, peserta muktamar memilih nama-nama yang dianggap layak, lalu nama-nama itu bermusyawarah sendiri menentukan siapa ketua umum.

  • Tidak ada kampanye “visi misi”.
  • Tidak ada baliho di perempatan jalan.
  • Tidak ada jargon “bersama saya Muhammadiyah akan bangkit” (Muhammadiyah nggak perlu bangkit, dia sudah bangkit sejak 1912).

3. Aset Dikelola Kolektif (AUM)

Aset Muhammadiyah tidak bisa dipegang satu orang. Semua berada dalam AUM (Amal Usaha Muhammadiyah), yang manajemennya kolektif, rapi, dan super ketat.

Ketua umum tidak bisa tiba-tiba jual rumah sakit untuk beli jet pribadi. Jadi kalaupun orang berebut jabatan, yang dia rebut itu cuma beban kerja, bukan harta karun.

4. Kaderisasi Natural

Kaderisasinya panjang dan sifatnya natural. Orang yang naik ke pusat sudah kenyang pengalaman, sudah ketularan rendah hati, dan biasanya sudah lama hidup dalam kultur “kerja kolektif”.

Tidak ada tokoh yang ingin jadi sentral. Bahkan yang terlalu dominan pun biasanya diringankan lewat candaan internal.

5. DNA Ketertiban (“Rapat Dosen”)

Muhammadiyah punya DNA ketertiban. Organisasi ini tidak suka hal-hal ribut. Forum besar mereka sering diplesetkan “mirip rapat dosen”.

Ada humornya, tapi ya ada benarnya: tenang, tertib, dan tidak berisik. Bahkan ketika debat, volumenya tetap sopan, seolah-olah sedang seminar metodologi penelitian.

Kesimpulan: Taklif, Bukan Tasyriif

Semua fenomena di atas dipayungi oleh nilai moral yang sudah mengendap sejak zaman KH Ahmad Dahlan: memimpin itu beban, bukan penghormatan. Taklif, bukan Tasyriif.

Maka jangan kaget kalau suksesi Muhammadiyah selalu terasa dingin seperti AC masjid kampus: tenang, jernih, tanpa banyak drama. Semoga tradisi baik ini tetap terjaga sampai generasi berikutnya. Aamiin.


Penulis: Setiya Jogja Bagaimana menurut Anda tentang sistem pemilihan yang unik ini? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!

Leave a Comment

Hot Nows ionicons-v5-c